SUKA DALAM DIAM, CINTA PERTAMA DI SMA

Pagi yang mendung tapi tak semendung hatiku. Pagi ini aku merasa lebih bahagia dari biasanya karena melihatnya berjalan tegap didepanku, dan tepat didepanku kemudian perlahan melewatiku. Sudah cukup sebagai awal untuk hari ini.
Kebisingan kantin dan jus alpukat manis yang menjadi minuman favoritku disepanjang sekolah hampir tak terasa lagi ketika dalam lamunanku terlihat orang itu lagi.
 “ ciee ?! ngeliatin siapa dit ?” tegur sahabatku yang sekaligus menghancurkan lamunanku.
“apa sih, engga ada. Ngga ngliatin siapa-siapa”jawabku sigap.”namanya Radit tuh ! kakak kelas   menn…..”,
”trus gue harus bilang waow gitu ? biasa aja lagi. Ga kenal juga”
“tapi pengen kenal kan?”
”ga.”. Jawabanku ini mengakhiri perdebatan antara aku dan Risna.
Saat ini seiring berjalannya waktu semakin sering bertemu rasanya semakin senang, 50% dari temanku juga tahu kalau aku suka sama kak Radit. Tiba-tiba ada yang teriak ”kak dicari Dita !“malu bukan main, rasanya pengen bolos sekolah ! itu ulah temenku Syifa yang paling berisik anaknya. Bahkan mungkin kak Radit juga tahu aku suka sama dia. Masa bodo sih buat aku, tapi kadang buat galau juga kadang seneng dia tau gimana perasaanku ke dia tapi emang kadang bete juga karna itu buat aku tambah salting waktu ada dia, yang awalnya berisik jadi anak pendiam sedunia, yang biasanya jingkrak-jingkrak juga jadi anteng.
Malemnya aku cuman bisa ngliatin no hp baru yang ada di kontak hpku bertuliskan “Kak Radit”. Bener-bener mujizat Tuhan deh kalau tiba-tiba nomor itu ngirim pesan ke hpku. Rasanya mujizat itu ngga akan terjadi, kemudian aku putusin untuk bener-bener memberanikan diri untuk ngirim pesan bertuliskan “ kak Radit J”. Sambil jantung yang berdebar-debar dan kemudian menekan tombol “sent”. Hebatnya secepat kilat kak Radit bales pesan itu rasanya ngga sabar buka sms itu dan ternyata balasnya “iya. Ini siapa?” rasanya pengen pingsan, aku malu untuk bilang kalau ini gue “Dita” dan pada akhirnya gue ngaku juga sih. Malem ini aku emang smsan sama kak Radit, tapi dikit banget karna bingung mau bales apa. Mikir setengah mati untuk nemuin sang topik dan akhirnya gue bener-bener ngga nemuin.
Esok paginya tepat pukul 9, bel istirahat bunyi. Seperti biasa aku, Olive, Syifa, Risna buru-buru meluncur ke kantin. Setelah mendapatkan makanan yang kita cari, langsung deh capcus ke kelas, tiba-tiba didepanku kak Radit lagi jalan ke arah kantin dan itu pastinya harus nglewatin aku. Dengan langkah salting aku mempercepat langkahku melewatinya seakan-akan gue lupa tadi malem sms dia, begonya lagi Syifa teriak “ jangan salting dit !”. Sumpah itu malu-maluin banget dan aku berusaha buat nglupain itu semua. Bel istirahat ke-2 bunyi, aku mengurungkan niat untuk keluar kelas, bisa dianggap trauma sementara. Letak kelasku emang pas didepan mushola, kak Radit emang cowok yang doyan sholat itu salah satu hal yang beda sama aku. Aku orang nasrani dan pastinya ngga sholat tapi ke gereja. Waktu kak Radit di mushola, dia tahunya clingukan dijendela kelasku. Temen-temenku serentak ngomong “ciee” entah ngapain kak Radit tadi yang jelas aku sempet geer tapi aku juga ngga berani buat berharap banyak. Sejak itu juga kak Radit sering banget lewat depan kelasku, emang hanya sekedar lewat atau apalah aku juga gatau. Kalau bertemu pun aku malah jadi salting sendiri dan ngga berani liat mukanya beda banget sama ekspresi kak Radit yang ramah sambil tebarpesona dan selalu tersenyum sama banyak orang. Semakin hari aku semakin mengenal kak Radit, menurutku dia cowok yang ramah, ngga sombong, baik, friendly lah. Emang cuman hal-hal baik aja sih yang aku tahu tentang dia.
Banyak hal yang aku lakuin untuk cari tahu tentang kak Radit bisa dibilang pengorbanan sih mulai dari stalking facebook dan twitter hampir tiap hari sampai mata-mata dikelasnya kak Radit yaitu kak Vella. Kita tukeran informasi karna dia juga suka salah satu temen cowok dikelasku, mutualisme kan. Tapi lama-kelamaan aku juga ngga enak untuk minta info lanjut buat tanya-tanya tentang kak Radit karna kak Vella juga udah mulai jauh sama teman sekelasku yang waktu itu sempet kak Vella taksir.
Pagi ini sekolahku ngadain acara FDA ( Festival Dolanan Anak ) dimana semua warga disekolah wajib pakai pakaian orang desa jaman dulu gitu (bagi yang perempuan menggunakan jarik serta kebaya, dan yang laki-laki wajib pakai celana polos dan atasan batik atau kaos polos ). Aku sudah menyiapkan perlengkapannya kemarin hingga aku menginap dirumah sahabatku Olive untuk saling mengkritik penampilan kami, dihari ini kegiatan belajar mengajar diliburkan semua free untuk kegiatan hari ini yang bertema –kan Jawa ada banyak permainan (betengan, engklek, dll) dan berbagai jajanan pasar yang dijual disekolah. Acaranya berlangsung sangat lucu dan terlihat begitu melihat warga sekolah tanpa terkecuali memakai pakaian yang sudah ditentukan tersebut, pada upacara pembukaan FDA posisi baris kelasku persis disamping kelas kak Radit aku shock bukan main jantungku rasanya hampir berhenti seketika. Aku ada pada baris ke-4 kebelakang dan Olive tepat berada disamping kiriku. Ketika aku sedang asik ngobrol dengan teman-temanku aku tak sengaja menengok sebelah kanan rasa kaget tadi muncul lagi, aku melihat sosok cowok dengan celana hitam panjang dengan baju batik dilengkapi dengan peci hitamnya “oh Tuhan itu kak Radit ada tepat disampingku !”, dia banyak bercanda dengan  teman-temanku dan aku yang disebelahnya sedang fokus menatap wajahnya yang sedang tersenyum lebar sesekali ketika ia melihatku aku spontan mengalihkan pandanganku dari-nya sembari berharap dia tidak akan mengetahui bahwa sedari tadi aku memperhatikannya, entah dia sadar atau tidak aku sungguh berharap dia benar-benar tidak mengetahui hal itu. Hari ini sungguh hari menyenangkan untuk ku, ketika pawai dimlai aku juga berjalan terkadang dibelakang, hingga ada tepat disampingnya. Langkahnya terhenti sejenak karna langkah orang didepannya terhenti tapi langkahku tak terhenti sampai akhirnya dia tepat berada di belakangku, posisi yang sama sekali tak ada nyamannya untukku. Aku benar-benar gugup saat berjalan sulit sekali rasanya menyembunyikan perasaan ini, melangkahkan kaki dengan berharap dia tak terlalu memperhatikanku sampai akhirnya kami kembali ke sekolah. Acara berlangsung hingga pukul 5 sore, ditutup dengan permainan dakon masal yang menyenangkan seakan kembali pada masa kecil. 
Malam ini aku juga berharap Kak Radit sms, tapi ternyata tidak juga. Seperti layaknya cewek aku gengsi lah kalau harus sms dulu jadi kuputuskan untuk ngga sms dia. Beberapa hari kedepannya aku sudah mulai jarang ketemu kak Radit, aku pun juga tidak terlalu ingin bertemu dan rasanya kak Radit cuek aja dengan perasaanku padanya. Jadi aku udah menganggap bahwa kak Radit emang ngga suka denganku, dan aku tau kalau cinta emang ngga bisa dipaksakan. Jadi aku berusaha move on secepat mungkin.
Saat pembagian rapor semester 1 , alhasil gue sedih banget karna nilaiku bener-bener ngga memuaskan sama sekali. Untungnya orangtuaku bukan tipe orang yang suka nuntut. Mungkin aku emang terlalu banyak kegiatan ditambah karna sering main sama temen-temen se-geng yang ngga liat jam. Semenjak itu aku mau lebih rajin lagi belajar dan ngurangin kegiatan yang ngga penting, main, dan ngurungin niat untuk pacaran. Beberapa hari di sekolah, aku ngga liat kak Radit mungkin Tuhan mau bantu aku untuk nglupain kak Radit.
Hari ini masih musim hujan, lagi-lagi pulang ditemani gerimis. Aku pulang dengan Olive sambil cerita banyak hal. Aku emang paling nyambung ngobrol sama satu temanku ini mulai dari cerita pengalaman kami, curhat tentang gebetan sampai cerita tentang keluarga kami masing-masing. Aku sudah lama kenal Olive dari kelas satu SMP tepatnya 3 setengah tahun dengan SMA ini. Kemudian kami berpisah di Ungaran Square, gerimis sempat menjadi deras kemudian berhenti. Aku menunggu angkot tepat disamping traffic light dan baru kali ini aku menunggu angkot lama sekali, sekali dua kali angkot terlihat penuh dan tak mau berhenti kaki ini rasanya tidak kuat lagi untuk berdiri. Sampai terlihat dari arah jalur kendaraan yang berlawanan aku bertemu sosok yang tak asing dengan motor vixion, ternyata itu kak Radit. Dia menengok melihatku dan tersenyum padaku sambil menganggukan kepalanya, spontan aku membalas senyumnya jantungku berdebar kencang rasanya senang sekali. Aku masih tersenyum sampai sebuah angkot berhenti didepanku dan menutup pandanganku, aku duduk pada baris dekat pintu sambil melihatnya dari belakang sampai tak terlihat. Aku hampir saja tak memikirkannya lagi, tapi tiba-tiba makhluk itu datang lagi. Seperti remaja pada umumnya, aku memang galau karna itu. Diiringi musik klasik yang sengaja ku putar sesuai suasana hatiku, sampai Tuhan menyadarkanku dari lamunan bahwa menurutku yang kulakukan hanya buang-buang waktu dan memang tidak begitu penting… kemudian menggantinya dengan musik beat dan mengumpulkan semangat belajar menutup hari galau ini.
Hari ini hari Rabu. Pagi siang dan sore terasa berjalan begitu lama ditambah ekskul paskibra yang aku ikuti selama semester 1 tak kunjung selesai, sesampainya dirumah aku menengok kearah ponsel yang akhir-akhir ini jarang ku gunakan. Ponselku terasa sepi dan aku mengirim pesan untuk kakak kelasku yang memang sering ku ajak cerita namanya kak Ruth dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Kebetulan kita seiman, aku tidak banyak cerita tentang kak Radit dengannya. Tapi kak Ruth bercerita banyak tentang pengalamannya, sampai akhirnya dia berkata “kalau aku sih dek ngga usah jalin hubungan kalau pada akhirnya memang ngga bisa diterusin, Tuhan ngga akan kasih yang beda dan Tuhan kasih yang terbaik untuk kita.”. Aku hanya bisa mengamini kalimat itu. Dan sambil berfikir bahwa emang bener juga kalau aku lebih baik konsen belajar lagipula semester 2 ini tugas-tugas udah nunggu untuk dikerjain, aku juga ngga mau mikirin cowok dulu. Kata-kata kak Ruth emang menginspirasi aku banget dan menyadarkanku hal-hal tentang kak Radit, jadi seiring berjalannya waktu aku lebih menyibukan diri belajar dan berorganisasi yang memang lebih bermanfaat. Dan pada akhirnya gue yakin gue juga bisa lupa. End~
  


Comments

Popular posts from this blog

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN